Terkini Renato Sanches, Si Bagian Puzzle Terakhir

Posted on

Meski mengalami kekalahan atas Bayern Munich pada Selasa (25/7) kemudian dalam pertandingan International Champions Cup di Singapura, namun Antonio Conte seakan diberi pencerahan pada sabung yang berakhir dengan skor 2-3 tersebut. Cesc Fabregas dan N’golo Kante dibentuk seakan tak berdaya menghadapi cowok 19 tahun asal Portuga, Renato Sanches.


Sanches terus memberi pressing yang menciptakan Fabregas dan Kante tidak nyaman memainkan bola pada pertandingan tersebut. Ia juga mambu mendistribusikan bola dengan baik. Sanches mengungguli Fabregas dan Kante hampir dalam semua aspek.

Hal tersebut rupanya menciptakan Conte terkagum-kagum. Media Inggris, London Evening Standard memberitakan bahwa Conte sempat berbicara dengan Carlo Ancelotti seputar Sanches seusai pertandingan. Baru-baru ini, Karl Heinz-Rummenigge selaku CEO Bayern mengonfirmasi ketertarikan tersebut.

“Ada sekitar 10 tim yang menginginkan Sanches. Conte bertanya beberapa informasi perihal ia seusai pertandingan hari Selasa kerena Conte tahu Sanches sanggup memberi perbedaan di atas lapangan,” ujar mantan pemain timnas Jerman itu.

Sanches gotong royong gres semusim berseragam Bayern. Ia dibeli dari Benfica dengan mahar  35 juta euro. Namun kalau seluruh klausul aktif sampai 30 Juni 2021, Bayer akan mengeluarkan total 80 juta euro. Jika Sanches berhasil masuk dalam tiga besar Ballon d’Or atau tercantum dalam FIFA Team of the Year, Benfica akan menerima 20 juta. Sisa 25 juta akan dibayarkan Bayern secara berkala. Bayern harus mengeluarkan lima juta setiap 25 sabung yang dimainkan Sanches. Melihat klausul yang sedemikian rupa tersebut, Sanches tentu bukanlah pemain sembarangan.

Pemain kelahiran Lisbon tersebut memang digadang-gadang akan menjadi gelandang hebat di Eropa. Ketika ia masih berusia 18 tahun, Sanches dipercaya sebagai andalan di lini tengah Benfica yang hasilnya bisa meraih gelar Primeira Liga dan Taca da Liga (Piala Portugal). Ia juga sukses membawa timnas Portugal keluar sebagai kampiun Euro 2016.

Melihat segala pencapaiannya tersebut, maka tak gila melihat Conte tertarik mendatangkannya. Ia juga masuk dalam kategori gelandang yang disukai Conte, gelandang dengan kemampuan fisik hebat. Sanches memang mempunyai fisik yang luar biasa. Pada umurnya yang belum menginjak 20 tahun, ia sudah bisa berduel dengan pemain-pemain yang jauh lebih bau tanah darinya.

Sanches bisa menjadi belahan puzzle terakhir yang dicari Conte kalau manajer asal Italia itu ingin menerapkan gugusan favoritnya semenjak dahulu, 3-5-2. Tiga gelandang yang dimainkan harus mempunyai daya jelajah yang luar biasa, hal tersebut tidak dimiliki oleh Fabregas. Sementara itu, Timeoue Bakayoko dan Kante memilikinya. Kedatangan Sanches akan menciptakan Conte sanggup menerapkan bagan yang menciptakan ia sangat sukses di Juventus.

Kekuatan fisik, keberanian menciptakan tekel, dan determinasi tinggi untuk mengejar bola sanggup menjadi kekuatan utama Sanches di lini tengah. Dari aspek pertahanan, ia mempunyai kerja keras yang hampir sama menyerupai Kante, meski gelandang Prancis itu mempunyai kualitas tekel yang lebih baik. Namun Sanches juga sanggup dipercaya untuk memotong serangan lawan dari tempat yang tinggi.

Dalam gugusan tiga gelandang, Sanches akan menjadi gelandang box-to-box. Kante akan lebih fokus bertahan sementara Bakayoko menawarkan keseimbangan. Sanches akan diberi kebebasan untuk mencari ruang dan menciptakan peluang. Ia mempunyai kemampuan yang baik dalam situasi duel satu lawan satu. Namun, donasi Sanches dalam bentuk asis atau pun gol masih minim sejauh ini.

Meski begitu, Sanches masih kurang baik dalam menciptakan keputusan. Masalah tersebut gotong royong yakni duduk kasus klasik untuk pemain muda. Mereka masih butuh menit bermain dan pengalaman yang banyak untuk sanggup menciptakan keputusan yang tepat. Sanches kerap melaksanakan pelanggaran tidak perlu atau menentukan opsi umpan yang buruk.

Jika benar-benar ingin mendatangkan Sanches, Chelsea tampak harus bernegosiasi lebih lanjut untuk membawa Sanches ke Stamford Bridge secara permanen. “Ancelotti bahagia dengan performanya kala melawan Chelsea. Hampir niscaya kita akan membiarkan ia pergi hanya sebagai pinjaman, kami masih menaruh keinginan padanya,” ujar Rummenigge.

Hal ini tentu harus diperhatikan dengan seksama. Meminjam pemain potensial gotong royong bukanlah hal terbaik yang bisa dipilih. Kasus terburuknya yakni dikala ia bermain baik bersama Chelsea dalam masa pinjaman. Mengapa hal tersebut menjadi masalah terburuk? Bayern tentu tak ingin menjual Sanches kalau hal tersebut terjadi dan Chelsea seolah hanya sebagai kerikil loncatan bagi untuk Sanches.
Hal tersebut bisa diatasi dengan banyak sekali klausul yang bisa diaktifkan. Seperti klausul pembelian sehabis masa pinjaman. Dengan begitu, Sanches akan lebih gampang untuk didatangkan. Apalagi kalau ia merasa nyaman dan hasilnya mempunyai niat untuk benar-benar membela Chelsea.