Terkini Pembelajaran Dari Kekalahan Atas Bayern Munich

Posted on

Chelsea mengalami kekalahan 2-3 kala menghadapi Bayern Munich dalam pertandingan International Champions Cup yag dihelat di Singapura pada Selasa (25/7) lalu. Gol dari Rafinha dan dwigol Thomas Muller hanya bisa dibalas oleh Marcos Alonso dan Michy Batshuayi. Kekalahan tersebut menjadi kekalaha pertama Chelsea di berkelahi pra-musim usai menang atas Fulham dan Arsenal.


Chelsea tampil tanpa tiga penyerang andalan. Eden Hazard mengalami patah engkel, Pedro pulang ke Inggris sehabis David Ospina menabraknya di berkelahi melawan Arsenal, dan Diego Costa masih belum bergabung dengan skuat Chelsa, atau mungkin tidak akan lagi bergabung dengan skuat Chelsea. Antonio Conte juga terpaksa menduetkan N’golo Kante dengan Cesc Fabregas, gelandang yang bukan mengandalkan fisik menyerupai yang ia suka. Nemanja Matic tidak diikutsertakan seiring dengan masa depannya yang belum terperinci dan Timeoue Bakayoko masih dalam tahap pemulihan cedera.

Di kubu tim lawan, Bayern pun tampil tanpa sejumlah pemain andalannya. Tidak ada nama-nama tenar menyerupai David Alaba, Arturo Vidal, Manuel Neuer, Thiago Alcantara, dan Arjen Robben dalam starting eleven Bayern. Namun juara Bundesliga itu bermain dengan iman diri tinggi dan nyaman berbagi permainan. Chelsea gres panas pada babak kedua namun semuanya sudah terlambat untuk mengejar keunggulan tiga bol Bayern. Berikut beberapa hal yang sanggup diambil dari berkelahi melawan Bayern.

Pressing Tinggi Bayern Mengacaukan Segalanya

Sejak menit awal pertandignan, Bayern terus menekan pemain Chelsea yang sedang memegang bola di mana. Manajer Bayern yang pernah memberi gelar juara Premier League 2009-2010 bagi Chelsea, Carlo Ancelotti tampak menginstruksikan anak asuhnya untuk menekan Chelsea dari awal mereka memegang bola. Chelsea bergotong-royong tidak terlalu kesulitan kala menghadapi high-pressing di sepanjang Premier League ekspresi dominan lalu, tapi high-pressing Bayern benar-benar berkualitas.

Bayern menerapkan  man-to-man marking yang menciptakan Chelsea kebingungan menentukan opsi untuk mengalirkan bola. Pemain Bayern memberi tekanan secara disiplin yang menciptakan Chelsea kesulitan mencari celah untuk berbagi permainan. Pemain Bayern selalu melekat ketat setiap opsi umpan Chelsea. Hal ini terjadi cukup sering dan beberapa kali risikonya membahayakan pertahanan Chelsea.

Meski tak ada gol yang pribadi tercipta, namun seni administrasi ini menciptakan Bayern sangat nyaman. Bayern juga bisa menjaga penguasaan bola dengan baik. Hal ini harus diperhatikan Conte mengingat seni administrasi high-pressing kini banyak dipakai oleh tim-tim raksasa Eropa.

Terlalu Membiarkan Bayern Menguasai Bola

Chelsea juga kurang disiplin dalam menjaga pertahanannya. Pemain Bayern kerap dibiarkan menguasai bola sehingga mempunyai banyak waktu untuk mengambil keputusan yang tepat. Tiga gol yang bersarang ke gawang Thibaut Courtois disebabkan oleh hal ini.

Gol pertama dicetak Rafinha dari luar kotak penalti. Tak ada pemain Chelsea yang memperlihatkan tekanan atau gangguan kepada Rafinha. Kante tidak memperlihatkan tekanan, sementara itu Alonso dan Gary Cahill fokus kepada pemain lain. Rafinha pun melepaskan tendangan yang tidak terjangkau oleh Courtois.

Proses terjadinya gol pertama Bayern yang dicetak oleh Rafinha

Serupa dengan gol pertama. Gol kedua diawali dari umpan Batshuayi yang bisa diblok Corentin Tolisso, Bayern melaksanakan serangan balik cepat lewat empat pemain berbahaya. Sementara itu, Alonso, Fabregas, dan Moses terlihat tak merespon dengan baik. Mereka hanya berjalan dan tidak mengganggu Bayern dalam serangan balik tersebut.

Fabregas, Kante, dan Alonso tertinggal di sektor tengah lapangan
Ribery bisa mengisi ruang kosong di sisi kanan perthanan Chelsea dan berhasil mengelabui Cesar Azpilicueta. Bahkan sesaat sebelum umpan silang Ribery, hanya terdapat empat pemain bertahan Chelsea di kotak penalti, itu pun dengan posisi Andreas Christensen dan Kante yang cenderung menumpuk. Masalahnya yakni mereka berhadapan dengan pemain kelas dunia. Fabregas terlambat memberi dukungan dan Muller menceploskan bola dengan mudah. Kejadian ini yakni salah satu bukti bahwa Fabregas bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan bagi Chelsea.

Empat lawan empat dan Fabregas terlambat datang

Lagi-lagi, Chelsea diingatkan untuk melaksanakan pressing yang benar melalui skenario gol ketiga. Mats Hummels berhasil merebut bola dari Batshuayi dan mengumpan kepada Renato Sanches. Fabregas terlambat memperlihatkan tekanan untuk Sanches dan risikonya pemain asal Portugal itu menemukan Tolisso dan bola dengan cepat berada di kaki Muller yang menerima ruang kosong.

Muller berlari tanpa pengawalan. Sulit dipercaya melihat Kante tak berlari membantu pertahanan pada kasus ini. Pergerakan Lewandowski juga berperan dalam pemecah fokus Christensen dan Cahill. Keduanya memang tidak berkomunikasi dengan baik pada pertandingan ini. Pada proses gol kedua Muller, Christensen dan Cahill seakan kebingungan siapa yang akan menutup ruang tembak Muller dan siapa yang akan menjaga Lewandowski. Namun semuanya terlambat dan Muller melepaskan tendangan terukur yang menciptakan Bayern unggul tiga gol.

Reaksi Chelsea Patut Diapresiasi

Tak usang sehabis gol ketiga Bayern, pertandingan berhenti sejenak untuk melaksanakan water break. Setelah kembali bermain, Chelsea mulai menemukan bentuk permainannya meski performa Bayern tak menurun. Hasilnya cukup baik, Alonso bisa mencetak gol sehabis umpan silang Moses tak sanggup disambut oleh Batshuayi.

Pada babak kedua, Chelsea kian membaik. Kingsley Coman masuk menggantikan Lewandowski pada pergantian babak dan bisa menciptakan dribel yang merepotkan namun pertahanan Chelsea terlihat lebih solid pada babak kedua. Ditambah dengan masuknya David Luiz dan Alvaro Morata, semangat Chelsea untuk mengejar ketertinggalan semakin terlihat. Batshuayi sempat memberi asa bagi fans Chelsea ketika golnya menciptakan Chelsea hanya butuh satu gol lagi. Namun tak ada gol lagi yang tercipta sampai pertandingan usai. Reaksi ini patut terus dijaga dalam kondisi apapun di sebuah pertandingan.

*

Kekalahan ini memang memberi pekerjaan rumah bagi Conte untuk diselesaikan. Namun hal faktual juga tercipta. Sejumlah pemain pelapis yang dimiliki Chelsea masih kurang memuaskan. Padahal Chelsa akan bermain di Liga Champions yang tentu akan menguras tenaga. Hal ini sanggup benar-benar menyadarkan petinggi klub untuk terus mencari pemain incaran Conte.