Terkini [On This Day] Lahirnya Pat Nevin, Sarjana Seni Yang Pernah Menjadi Dj

Posted on

Tepat hari ini, mantan pemain Chelsea Pat Nevin berulang tahun ke-54. Bagi yang belum merasa familiar dengan nama tersebut, ia yaitu salah satu cult hero Chelsea dari dekade 1980-an.


Mantan pemain sepakbola dengan nama lengkap Patrick Kevin Francis Michael “Pat” Nevin itu lahir pada 6 September 1963 di Glasgow, Skotlandia. Dalam karir 20 tahunnya, ia bermain untuk Clyde, Chelsea, Everton, Tranmere Rovers, Kilmarnock dan Motherwell. Ia telah berhasil mencatatkan 28 penampilan internasionalnya untuk Skotlandia. Ia berhasil bertengger di sepanjang karir internasional selama sepuluh tahun, dan ia berhasil terpilih masuk ke dalam skuat final UEFA Euro 1992. Sejak pensiun sebagai pemain, Nevin telah bekerja sebagai CEO untuk Motherwell dan berhenti pada 2002. Selain itu, Nevin juga bergelut di dunia penyiar serta turut aktif menjadi salah satu penulis sepakbola.

Mengawali karir di negaranya sendiri, Nevin dilatih di sekolah tinggi Celtic semenjak masih muda. Namun, ia ditolak masuk tim sebab tubuhnya yang terlalu kecil. Ia kesannya menandatangani kontak dengan Clyde pada 1981. Di demam isu pertamanya, klub tersebut dipromosikan sebagai juara Divisi Kedua Skotlandia. Nevin berkontribusi dengan mencetak 14 gol dalam 30 penampilannya. Ia juga berhasil terpilih sebagai SPFA Division Best Player of the Year. Ia kemudian mencetak enam gol di 44 sabung pada demam isu keduanya bersama klub asal Skotlandia tersebut. Atas dedikasinya itu, Nevin dilantik guna menjadi Clyde FC Hall of Fame pada 2011.

Performanya yang apik menarik Chelsea untuk menelponnya. Nevin pun kemudian tiba di Stamford Bridge pada pertengahan 1983 dengan harga 95 ribu paun. Ia bergabung bersamaan dengan rekan senegaranya Kerry Dixon, Nigel Spackman, David Speedie dan Eddie Niedzwiecki. Kemampuan dan kecepatan Nevin membuatnya menjadi pemain penting di Chelsea. Ia kemudian dinobatkan menjadi pemain favorit oleh fans. Pada 1983/84, Nevin berhasil mencetak 14 gol, dan bisa membuat banyak peluang serta umpan untuk rekannya, termasuk Dixon dan Speedie.

Pria kelahiran Glasgow tersebut berposisi sebagai pemain sayap. Tubuhnya yang kecil membuatnya dijuluki Wee Pat atau dalam bahasa Indonesia disebut Pat Kecil oleh para fans Chelsea. Penampilan cemerlangnya bersama The Blues berhasil membuat Everton terkesima dengan Nevin. Nevin kesannya mengakhiri karir di Chelsea dengan catatan 193 penampilan liga dan 36 gol. Ia pun kesannya pindah ke Everton dan membantu meraih kejayaan bersama tim rival Liverpool tersebut.

Ada yang unik dari perjalanan karir laki-laki berjuluk Pat Kecil tersebut. Karena semenjak masih belia dulu, Nevin dikenal sebagai seorang yang asing pada musik, khususnya musik indie. Dalam majalah FourFourTwo Inggris edisi Januari 2016, ia menyebutkan empat album yang sering ia gunakan kala ia didapuk menjadi DJ: “Boy With The Arab Strap” dari Belle and Sebastian, “Babies” dari Pulp, “Young Adult Friction” dari The Pains of Being Pure At Heart, dan “Spitfire” dari Public Service Broadcasting.

Salah satu dongeng legendaris wacana kecintaan Pat Nevin terhadap musik terjadi kala ia memperkuat Chelsea. Dalam sebuah sabung pramusim kontra Brentford, Chelsea mengabulkan undangan Nevin untuk diganti kala turun minum hanya sebab sang sayap andalan ingin menyaksikan konser Cocteau Twins. Band ini sendiri merupakan band indie rock Skotlandia yang berkarya dari tahun 1979 sampai 1997.

Tidak hanya sebagai penikmat, semenjak muda Nevin pun sudah kerap menjadi DJ di banyak sekali program bawah tanah. Akan tetapi, kesibukannya yang sebagai pesepakbola profesional membuatnya sulit menemukan waktu guna melaksanakan aktivitasnya tersebut. Setelah pensiun pun, ia lebih kerap tampil di banyak sekali media sebagai analis serta kolumnis sesudah berhenti menjadi CEO klub Motherwell pada 2002.

Baru kemudian pada tahun 2010, Nevin benar-benar menemukan jati dirinya sebagai seorang DJ yang handal. Pria dengan label gelar sarjana seni dari Glasgow Caledonian University itu diundang oleh ATP (All Tomorrow’s Parties) untuk menjadi DJ pada edisi ulang tahun kesepuluh Bowlie Weekender, sebuah program yang diselenggarakan oleh Belle and Sebastian pada 1999.

Acara bertajuk Bowlie 2 tersebut sukses besar dan Nevin yang tampil pada hari ketiga berkata, “Rasanya menyerupai memenangi Liga Champions! Orang-orang memuji set saya di Twitter dan saya pun mendapatkan banyak anjuran dari banyak sekali grup musik indie.”

Ketika ditanyai perihal asal muasal kecintaannya pada musik, Nevin menjawab bahwa semua berawal dari kegemarannya akan album-album rilisan label independen Glasgow, Postcard Records serta John Peel Show yang dulu mengudara di BBC Radio 1. John Peel sendiri merupakan sebuah nama besar di dunia musik Inggris Raya dan sudah mulai menjadi DJ radio semenjak 1967 sampai ia wafat pada 2004.

“Ia (John Peel) memainkan lagu-lagu dengan spektrum yang amat luas, dan hal tersebut benar-benar bisa membuka cakrawala saya wacana musik. (Karena itu pula) pergi ke konser-konser pun menjadi kegemaran saya. Saya (pernah) menyaksikan Joy Division, New Order, dan saya pun justru kemudian lebih banyak mempunyai teman di dunia musik, menyerupai Peely (sapaan bersahabat John Peel), ketimbang di sepak bola,” saya Nevin kepada FourFourTwo.

Dalam wawancara yang sama dengan FourFourTwo, Nevin juga mengaku bahwa ia tidak menjadi DJ sebab uang. Menurutnya, DJ yaitu daerah yang tepat untuk menjadi tidak terlihat. Kalau merasa tidak menyenangkan, ia pun niscaya akan menolak anjuran untuk tampil. Ia memang sudah mahir memakai teknologi mutakhir menyerupai iPod, akan tetapi, ia mengaku tetap lebih menentukan memakai teknologi usang sebagai sarana memainkan hobinya tersebut.