Terkini Mengenal Lebih Dalam Davide Zappacosta

Posted on
Setelah mendapatkan Alvao Morata, Timeoue Bakayoko, Antonio Rudiger, dan Willy Caballero, Chelsea masih berusaha untuk mencari pemain gres pada final bursa transfer kemarin. Posisi bek sayap dan wide forward dipercaya sebagai posisi yang ingin diperkuat oleh Antonio Conte. Khusus untuk bek sayap, Chelsea memang perlu memperkuat kedalaman skuat di sektor tersebut sebab Chelsea akan berkompetisi di Liga Champions yang akan menciptakan agenda semakin padat.
Conte dipercaya menginginkan bintang Juventus, Alex Sandro, untuk mengisi posisi bek sayap. Namun, Juventus tak ingin menjual pemain asal Brasil tersebut. Pilihan selanjutnya jatuh pada Alex-Oxlade Chamberlain yang mulai bermain sebagai bek sayap kanan di Arsenal. Namun ia risikonya menentukan Liverpool. Di final waktu transfer, selain mendatangkan Danny Drinkwater dari Leicester City, Chelsea risikonya mendatangkan Davide Zappacosta, bek sayap kanan dari Torino dengan biaya transfer 25 juta paun.
Nama Zappacosta memang masih absurd terdengar. Namun, Conte tentu tidak sembarangan mendatangkan pemain. Zappacosta mempunyai kemampuan yang sanggup membantu Chelsea untuk bersaing di trend 2017/18.
Sebelum bermain untuk Torino, Zappacosta bermain di Lega Pro Seconda Divisione trend 2010/11 (liga divisi empat di Italia) ketika ia berusia 18 tahun. Pada 2011, Atalanta tertarik dan memboyongnya ke Serie A dengan kepemilikan bersama. Zappacosta langsng dipinjamkan selama semusim ke klub Serie B, Avellino. Avellino kemudian tertarik mendatangkannya dan mengganti komitmen peminjaman menjadi kepemilikan bersama pada 2012.
Penampilan apik Zappacosta bersama Avellino menciptakan Atalanta kembali ingin mendapatkan jasa Zappacosta. Pemain berusia 25 tahun itu bermain di Serie A trend 2014/15. Semusim bersama Atalanta, Zappacosta risikonya bergabung bersama Torino dan karirnya mulai naik.
Pada Mei 2016, Conte yang dikala itu masih menangani timnas Italia memanggil Zappacosta untuk pertandingan persiapan Euro 2016. Ia juga masuk ke 30 nama yang menjadi kandidat skuat Euro. Namun sayangnya Zappacosta tidak terpilih untuk ikut bermain di Prancis. Zappacosta gres menjalani debut bersama timnas pada November 2016 kala Italia berhadapan dengan Liechtenstein di kualifikasi Piala Dunia 2018.
Melihat perjalanan karirnya, Conte memang sudah mengenal Zappacosta. Ia tentu mengamati performa Zappacosta sebelum memutuskan untuk memanggil Zappacosta ke timnas Italia. Pembelian Zappacosta pun bukan sembarangan mencari bek sayap yang bisa dibeli.
Meski Andrea Belotti yang mencuri perhatian Torino trend lalu, namun donasi Zappacosta tak sanggup dipandang sebelah mata. Ia bisa memberi donasi bertahan dan menyerang dengan baik. Zappacosta mencatatkan 29 penampilan dengan raihan satu gol dan lima asis trend lalu.

Jika dibandingkan dengan Victor Moses, Zappacosta mempunyai tipe yang lebih bertahan. Sepanjang trend lalu, Zappacosta hanya mencatatkan 0,6 dribel per pertandingan, kalah jauh dari Moses yang menciptakan 1,6 dribel per pertandingan. Zappacosta juga tidak mempunyai kecepatan dan daya serang sebaik Moses.
Namun Zappacosta lebih baik dari Moses wacana umpan silang. Kala Moses hanya menciptakan enam umpan silang yang berbuah umpan kunci trend lalu, Zappacosta mencapai angka 32. Raihan umpan kunci sebesar 1,4 per pertandingan juga diciptakan Zappacosta sebagian besar lewat umpan silang.
Zappacosta memang dikenal sebagai pelepas umpan silang handal di Italia. Selain ia menciptakan empat asis dari umpan silang trend lalu, Zappacosta juga hanya kalah dari Alex Sandro wacana pembuat umpan silang sukses terbanyak semenjak Januari 2016 sampai Mei 2017 di Serie A. Namun jikalau melihat catatan Chelsea trend lalu, hanya lima dari 85 gol yang dicetak melalui umpan silang. Lalu apa sebetulnya tujuan Conte membeli Zappacosta?
Pembelian Zappacosta akan terasa lebih masuk logika jikalau mengetahui bahwa enam dari 15 gol Morata trend kemudian dicetak lewat sundulan. Dengan adanya Zappacosta, sekarang Chelsea mempunyai pemain yang bisa menyuplai umpan silang kepada Morata. Hal ini akan memberi variasi serangan bagi Chelsea.
Perihal pertahanan, Zappacosta tidak berbeda jauh dari Moses. Untuk tekel per pertandingan, Zappacosta (1,5) unggul sedikit atas Moses (1,4). Sama halnya dengan intersep di mana Zappacosta menciptakan 1,3 intersep per pertandingan dan Moses 1,2 intersep per pertandingan.
Perbedaan yang cukup mencolok dari Moses dan Zappacosta yaitu soal duel udara. Postur tinggi Zappacosta yang mencapai 185 cm menciptakan ia gampang memenangkan duel udara. Musim lalu, Moses hanya bisa memenangkan 38% duel udara, sementara Zappacosta bisa memenangkan 48% duel udara.

Tipe Zappacosta yang lebih bertahan dan bisa melepaskan umpan silang dengan baik menciptakan Conte sanggup memasang Zappacosta ketika Chelsea berhadapan dengan lawan yang kuat. Zappacosta bisa memperkuat pertahanan Chelsea. Tekanan tim lawan yang berpengaruh menciptakan Chelsea mungkin akan kesulitan menciptakan peluang. Namun, Zappacosta bisa menawarkan solusi dengan umpan silang akuratnya kepada Morata yang bisa menempatkan diri dengan baik sebelum mendapatkan umpan silang.