Terkini Antonio Rudiger Masih Menunggu Keadilan Dari Figc

Posted on
Bek gres milik Chelsea, Antonio Rudiger mengakui bahwa ia masih menunggu keadilan dari FIFA dan FIGC (Federasi Sepakbola Italia) sehabis menjadi korban rasis pada ekspresi dominan kemudian ketika masih berseragam AS Roma.

Rudiger bergabung dengan Chelsea dari Roma awal bulan ini, namun ia belum siap untuk memaafkan atau melupakan insiden jelek yang terjadi pada bulan Maret lalu. Pemain internasional Jerman itu menjadi target penggemar Lazio ketika bermain untuk Roma dalam pertandingan Coppa Italia. Rudiger ialah warga negara Jerman namun ia lahir dari ibu yang berasal dari Sierra Leone, itulah yang menjadikan kulitnya berwarna hitam.

Sikap rasis yang diterima Rudiger berupa sorakan dan bunyi simpanse yang ditujukan kepadanya. Pada tabrak yang bertajuk Derby Della Capitale itu Rudiger tak hanya mendapat perlakuan rasis dari fans Lazio. Tapi juga dari Senad Lulic, gelandang Lazio yang alhasil dieksekusi 20 hari larangan bermain dan denda sebesar 10 ribu euro.

Tragedi itu sangat buruk. Pihak stadion hingga turun tangan untuk mendesak fans Lazio guna menghentikan agresi rasisnya itu lewat sistem PA, yaitu memberi tahu fans Lazio melalui pengeras suara. Otoritas sepakbola Italia hanya menunjukkan hukuman berupa denda kepada klub tersebut. Mereka tidak menghukum Lazio dengan menutup sebagian stadion untuk beberapa pertandingan, ataupun meminta tim ibukota Italia itu menghukum para pendukungnya yang melaksanakan agresi rasisme.

Sebagai federasi internasional sepakbola, FIFA sanggup bertindak. Namun, mereka sudah membubarkan divisi anti-rasisme pada bulan September tahun lalu. Sementara itu, Rudiger masih menginginkan keadilan dari otoritas yang berwenang. “Tidak semua orang Italia rasis bagi saya, saya hanya menginginkan keadilan. Saya ingin FIFA atau FA di Italia hanya untuk menangguhkan orang-orang yang melaksanakan itu.”

“Bukan semua orang di Italia melaksanakan hal menyerupai itu. Jika kita selalu berbicara ihwal rasisme di Italia, orang berpikir bahwa semua orang Italia ialah orang rasis, tapi kenyataannya tidak menyerupai itu. Saya hanya bermaksud orang-orang tertentu yang melaksanakan itu. Dan tidak semua. Tapi orang-orang waktu itu perlu dihentikan masuk stadion ataupun dikenakan denda,” tegas Rudiger.

Ada kejadian lain terkait rasisme yang terjadi di Serie A. Oleh sebab itu Rudiger telah mendesak FIFA untuk terlibat dalam menangani hal tersebut. Berbicara ihwal bagaimana rasanya mendengar bunyi simpanse yang ditujukan kepadanya ketika pertandingan melawan Lazio itu, ia menambahkan, “Anda merasa sendirian.”

“Saya sanggup tetap fokus tapi orang suka menyampaikan ‘tetap tenang’ atau ‘tidak usah melaksanakan apapun’. Praktis bagi Anda untuk menyampaikan hal-hal itu ketika Anda tidak berkulit hitam, dan Anda tidak pernah mencicipi menyerupai apa yang saya rasakan. Letakkan diri Anda dalam posisi saya, dan rasakan ihwal bagaimana perasaan saya waktu itu.”

“Pada ketika itu, ini menyerupai itu, Anda akan merasa sendiri. Anda harus kuat. Tapi setiap insan itu berbeda. Seseorang akan menganggapnya biasa dan tidak bereaksi apa-apa, ataupun reaksi lainnya. Saya sanggup mengerti keduanya,” tuturnya.

Namun, ketika ini Rudiger sangat senang berada di Chelsea.  Setelah 13 bulan sebelumnya, mimpi kepindahannya ke Stamford Bridge ‘mogok’, dikarenakan ia menderita cedera ligamen lutut yang amat serius. Dan transfer kepindahannya ekspresi dominan panas ini terlihat menyerupai dejavu. Pasalnya komitmen antara The Blues dan Roma pada ekspresi dominan panas tahun kemudian telah hampir disepakati. Hanya saja pemain berusia 24 tahun itu butuh waktu untuk menghabiskan beberapa bulan guna menyembuhkan cederanya. “Cedera ketika itu sanggup jadi momen terbesar dalam karir saya,” katanya.

“Tapi, kini ialah ketika terbesar ketika itu. Saya percaya pada Tuhan dan segalanya niscaya mempunyai waktu, jadi satu tahun kemudian, ketika saya memenangkan Piala Konfederasi dengan Jerman dan kemudian saya juga berada di Chelsea. Tentu saja, pada ekspresi dominan kemudian itu sangat menyedihkan. Saya tahu bahwa saya harus bekerja untuk mendapat kebugaran yang lebih kuat. Dan inilah yang terjadi.”

“Ini ialah mimpi untuk berada di sini. Saya selalu ingin bermain di Premier League dan kini sudah bertahun-tahun semenjak nama saya pertama kali dikaitkan dengan Chelsea. Sekarang saya di sini dan saya sangat senang dan ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang menciptakan ini menjadi kenyataan,” ungkap Rudiger.

“Pada ketika itu (2016), bukan ketika yang tepat, tapi kini saya disini. Seluruh skuad telah membantu saya merasa diterima, mereka sangat baik dan sangat hormat satu sama lain. Saya suka itu,” tambahnya.

Rudiger menciptakan penampilan pertamanya untuk klub London tersebut sebagai pemain pengganti di babak kedua, dalam kekalahan 2-1 dari Inter Milan pada pertandingan terakhir pra-musim Chelsea di Singapura. Ia mengaku butuh beberapa waktu untuk beradaptasi dengan kompetisi papan atas Inggris. Tapi di sisi lain, ia tidak sabar untuk menghadapi pemain menyerupai Romelu Lukaku dan Jamie Vardy ekspresi dominan depan.
“Saya belum pernah bermain di Liga Primer, namun liga Italia lebih taktis. Anda tidak mempunyai permainan terbuka menyerupai disini (Liga Primer). Di Inggris ini berbeda. Kedua tim menyerang sepanjang waktu. Itulah dua perbedaan utama antara Liga Italia dan Inggris. Dan tentu saja aspek fisik di Inggris perlu mempersiapkan permainan fisik yang lebih mempuni. Ada banyak striker menyerupai Jamie Vardy, Lukaku, dan banyak striker lain dimana Anda melihatnya bahwa ini ialah sebuah tantangan. Seluruh liga ialah sebuah tantangan,” ucapnya.