Terkini Antonio Conte Tak Ingin Ibarat Mourinho Dan Ranieri

Posted on
Menjadi juara Premier League memang menjadi mimpi semua manajer di liga paling kompetitif tersebut. Namun, keinginan tentu akan bertambah seiring dengan prestasi yang didapat. Boleh jadi keinginan besar itulah yang menciptakan dua manajer terakhir sebelum Antonio Conte itu dipecat.
Jose Mourinho sukses memenangkan trofi Premier League ketiganya bersama Chelsea pada demam isu 2014-2015 namun terjun bebas di demam isu setelahnya. Mourinho kesulitan membawa Chelsea masuk 10 besar dan karenanya ia dipecat pada bulan Desember, hanya tujuh bulan sesudah mengangkat trofi Premier League.
Ada juga Claudio Ranieri yang berhasil menciptakan kejutan besar dengan membawa Leicester City mengalahkan klub-klub papan atas Premier League dalam perebutan gelar juara. Ranieri tak bisa bersaing di papan atas dan harus angkat kaki dari King Power Stadium pada bulan Februari.
Conte menyatakan bahwa ia tak ingin kejadian tersebut terjadi kepada dirinya. “Dua instruktur dipecat dari Chelsea dan Leicester sesudah memenangkan liga. Saya ingin menghindari ini. Kami tahu demam isu depan akan lebih sulit dan kami ingin menghindari demam isu Chelsea sebelumnya,” ungkap Conte.
“Satu tahun lalu, tim ini menyelesaukan liga di urutan ke-10 dan kami ingin menghindari itu. Saya ingin menghindari kejadian dua demam isu kemudian itu. Pemain ingin menghindari demam isu jelek bersama Mourinho. Kami bekerja dengan baik dan kami harap kami menemukan solusi terbaik di masa mendatang,” tambahnya.
Hal ini ia ungkapkan seiring dengan hasil kurang memuaskan Chelsea pada berkelahi pra-musim yang dijalankan. Setelah sukses mengalahkan Fulham di Cobham dan Arsenal di Beijing, Chelsea kalah dalam dua berkelahi International Champions Cup melawan Bayern Munich dan Inter Milan.
Mourinho dan Ranieri juga mengalami hasil pra-musim yang tidak baik. Mourinho hanya bisa menang dua kali dari enam laga, itu pun hanya melawan Thailand All Stars dan Sydney FC. Mereka bermain imbang kala berhadapan dengan Barcelona dan Paris-Saint Germain. Dua kekalahan terjadi pada berkelahi melawan New York Red Bull dan Fiorentina.
Sama ibarat Conte, Ranieri juga menjalani dua berkelahi pra-musim dengan kemenangan. Namun kemenangan tersebut tak sanggup dijadikan tolak ukur mlihat Leicester memang unggul di atas kertas terhadap Oxford United dan Celtic. Dua berkelahi selanjutnya, Leicester dihajar habis-habisan oleh Barcelona dan Paris-Saint Germain.
Namun, perbedaannya ialah Mourinho dan Ranieri sama-sama tidak melaksanakan transfer besar-besaran. Mourinho  tidak aktif dalam bursa transfer dengan hanya mendatangkan Asmir Begovic dan Radamel Falcau sebelum demam isu berjalan. Sama halnya dengan Ranieri. Tapi Conte tidak terlena begitu saja dengan skuat yang ia miliki. Manajer asal Italia itu terus berupaya untuk mendatangkan pemain baru.
Conte secara tersirat mengungkapkan hal tersebut. “Kami mempunyai banyak pemain muda. Jika waktunya tepat, kami akan mencoba memainkan pemain itu,” ujar Conte yang harus kehilangan tiga penyerang utamanya pada sebagian besar pertandingan pra-musim.
Conte juga mengungkapkan alasan memainkan Alvaro Morata dan Michy Batshuayi secara bersamaan ialah alasannya ialah ia tidak mempunyai pilihan lagi. “Itu terpaksa alasannya ialah aku tidak mempunyai pemain lain. Kami memainkan tiga berkelahi dengan pemain yang sama dan mereka sangat kelelahan.”
Kehilangan Eden Hazard, Pedro, dan Diego Costa terasa sangat mempengaruhi performa Chelsea di atas lapangan. Oleh alasannya ialah itu, Conte ingin klub segera menyelesaikan transfer yang diperlukan. Mendatangkan pemain gres juga bisa menciptakan Chelsea semakin berpengaruh dan menghindari demam isu yang jelek ibarat Mourinho dan Ranieri.