Terkini Alvaro Morata Dan Dongeng Nomor Punggung Sembilan Di Chelsea

Posted on

Harapan besar muncul pada sosok striker gres Chelsea, Alvaro Morata. Pemain asal Spanyol itu akan diplot sebagai pengganti Diego Costa yang masih tak terang masa depannya di Stamford Bridge. Morata dibutuhkan bisa mencetak banyak gol dan membawa Chelsea meraih trofi sebanyak mungkin. Namun harapannya bukan hanya mencetak banyak gol, tapi juga memutus kutukan Chelsea pada nomor punggung sembilan yang tidak ramah terhadap pemakainya selama lebih dari 10 tahun terakhir.

Nomor punggung sembilan sebetulnya melahirkan banyak legenda. Peter Osgood berhasil mencetak 150 gol dan Kerry Dixon menjadi pencetak gol terbanyak ketiga dalam sejarah Chelsea dengan raihan 193 gol. Di kala Premier League, ada nama Gianluca Vialli yang mencetak 40 gol dalam 88 pertandingan serta Jimmy Floyd Hasselbaink yang menggetarkan jala gawang lawan sebanyak 87 kali dalam empat musim. Tapi tak ada pemain yang benar-benar tampil impresif dengan nomor punggung sembilan sehabis kontrak Hasselbaink habis pada tahun 2004.

Morata sendiri mengungkapkan bahwa dirinya sering menonton Chelsea ketika masih kecil dan bermimpi untuk mengenakan nomor punggung sembilan. “Ketika aku kecil aku sering menonton (pertandingan Chelsea) dan itu luar biasa, banyak gol tercipta dan pertandingan berlangsung cepat dan aku benar-benar ingin bermain disana. Ketika aku kecil aku melihat Didier Drogba, Andriy Shevchenko, Fernando Torres dan memikirkan kemungkinan aku akan menempati posisi mereka dalam beberapa tahun mendatang, dan kini mimpi aku terwujud untuk mengenakan nomor punggung sembilan,” ungkap Morata pada laman resmi Chelsea.

Ambisinya tersebut dibutuhkan bisa dibuktikan dengan raihan prestasi dan mengakhiri catatan jelek pemakai nomor punggung sembilan. Berikut pemain-pemain yang menggunakan nomor punggung sembilan sehabis Hasselbaink.

Mateja Kezman (2004-2005)

Dalam lima animo terakhir, Kezman hanya sekali gagal mencetak lebih dari 30 gol dalam semusim. Catatan impresif tersebut menciptakan Jose Mourinho kepincut dan mendatangkannya ke Chelsea dari PSV Eindhoven dengan mahar 5,3 juta paun. Namun ia tak bisa mengulang ketajamanya tersebut dan gres berhasil mencetak gol pada final Oktober ketika Chelsea berhadapan dengan West Ham United di ajang Piala Liga. 

Sementara itu, gol pertama Kezman di Premier League gres hadir pada awal Desember ketika sanksi penaltinya sukses menggetarkan jala gawang Newcastle. Meski pemain asal Serbia itu sukses mencetak gol kemenangan pada partai puncak Piala Liga melawan Liverpool, namun raihan itu tak sanggup menjawab keinginan fans melihat Kezman hanya mencetak tujuh gol dari 41 penampilan.

Hernan Crespo (2005-2006)

Crespo sebetulnya sudah berada di Chelsea semenjak tahun 2003 dan mengenakan nomor 21, namun sehabis Mourinho tiba pada tahun 2004, ia dipinjamkan ke AC Milan selama satu animo penuh. Crespo kembali ke Chelsea seiring dengan hengkangnya Kezman ke Atletico Madrid. 

Striker asal Argentina itu dikenal sebagai striker yang lengkap. Pergerakannya cepat, tekniknya bagus, besar lengan berkuasa dalam duel udara, mempunyai dua kaki yang sama kuat, dan mempunyai penyelesaian final di atas rata-rata, Crespo dibutuhkan bisa menjadi pesaing Didier Drogba di posisi striker. Tapi Crespo hanya bisa mencetak 13 gol dari 42 penampilan.

Khalid Boulahrouz (2006-2007)

Boulahrouz sebetulnya berposisi sebagai bek namun ia menentukan nomor sembilan sehabis didatangkan dari Hamburg. Boulahrouz pada awalnya ingin menggunakan nomor 21 tapi nomor tersebut sudah dikenakan oleh Salomon Kalou. “Saya menyukai nomor 21, tetapi itu telah dipakai. Tidak banyak pilihan nomor tersisa ketika aku bergabung dengan Chelsea, kesannya aku menentukan nomor 9. Mourinho pernah menanyakan alasan aku menentukan nomor itu. Saya menyampaikan bahwa tidak menyukai nomor-nomor besar dan menentukan nomor sembilan,” ujar pemain asal Jerman itu. Ia hanya menjalani 20 pertandingan pada animo itu.

Steve Sidwell (2007-2008)

Setelah Boulahrouz keluar, nomor punggung sembilan digunakan Sidwell yang juga bukan berposisi sebagai striker. Ia bermain sebagai gelandang tengah. Sidwell bergabung bersama Chelsea dengan status bebas transfer sehabis ia menjalani animo yang baik dengan Reading. Pemain asal Inggris itu sukses membawa Reading bertahan di Premier League meskipun mereka diprediksikan akan kembali terdegradasi pada animo pertama sehabis promosi. Namun Sidwell tak bisa berbuat banyak, ia berada di bawah bayang-bayang Frank Lampard dan Michael Essien. Sidwell mengakhiri animo dengan catatan pertandingan dan satu gol.

Franco DI Santo (2008-2009)

Nomor punggung sembilan kesannya kembali ke pemain yang berposisi sebagai striker. Namun kali ini nomor sakral itu diberikan kepada pemain berusia 18 tahun yang didatangkan dari tim Cili. Di Santo diboyong ke Stamford Bridge dengan nilai transfer 3,4 juta dan kontrak selama 4,5 tahun. Pemain asal Argentina itu memang digadang-gadang akan menjadi striker hebat. Namun ia tak bisa meyakinkan Luiz Felipe Scolari dan Guus Hiddink pada animo itu. Di Santo tampil hanya 16 kali dan tak bisa mencetak satu pun gol.

Fernando Torres (2011-2014)

Chelsea memang tak mempunyai pemain bernomor sembilan yang hebat, namun ada sosok Drogba sebagai pencetak gol ulung di posisi striker. Tapi Drogba kian menua dan Chelsea mempersiapkan pengganti striker asal Pantai Gading itu. Torres didatangkan dari Liverpool pada hari terakhir bursa transfer animo hambar tahun 2011. Kualitas striker asal Spanyol itu tak diragukan lagi. Ia berhasil mencetak 172 gol dalam 386 tabrak berseragam Atletico Madrid dan Liverpool sebelum bergabung dengan Chelsea. 

Namun Torres tak bisa mengulang perfroma apiknya, ia gres bisa mencetak gol sehabis menjalani 903 menit bermain bersama Chelsea. Setelah itu, Torres sebetulnya bisa mencetak beberapa gol penting menyerupai gol pengunci kemenangan Chelsea atas Barcelona di tabrak semifinal Liga Champions animo 2011-2012 dan gol pembuka di partai puncak Europa League 2013 melawan Benfica. Namun ia hanya bisa mencetak 45 gol dari 172 penampilan bersama Chelsea yang tentunya tak sebanding dengan harga 50 juta paun.

Radamel Falcao (2015-2016)

Terakhir, Falcao menggunakan nomor punggung sembilan pada masa peminjaman di animo bersama Chelsea yang berstatus sebagai juara bertahan Premier League ketika itu. Falcao sebetulnya ialah striker tajam dengan catatan 142 gol dari 178 pertandignan bersama Porto dan Atletico Madrid. Namun cedera yang ia alami kala membela Monaco pada tahun 2014 menciptakan ia kesulitan kembali ke performa terbaiknya. Manchester United meminjamnya pada animo 2014-2015 dan ia hanya bisa mencetak empat gol dari 29 laga. Bersama Chelsea, Falcao masih sering berkutat dengan cedera dan mengakhiri animo dengan satu gol dari 12 laga.

*

Jika ditotal, pemain bernomor punggung sembilan yang berposisi sebagai striker sehabis Hasselbaink hanya menorehkan 66 gol dari 293 pertandingan. Catatan jelek tersebut dibutuhkan bisa diakhiri oleh Morata yang telah terbukti kualitasnya. Ia bisa mencetak 20 gol animo kemudian bersama Real Madrid. Jika melihat jumlah golnya, masih banyak yang lebih subur dari Morata. 

Tapi ia berhasil mencetak 20 gol hanya sebagai pemain pelapis Karim Benzema. Musim lalu, Morata berhasil mencetak satu gol setiap 94 menit kalau dirata-rata. Jika berhasil mengulang catatan apik itu, Morata bukan tak mungkin akan mencetak lebih dari 30 gol bersama Chelsea animo ini.